id
stringlengths
1
7
url
stringlengths
31
389
title
stringlengths
1
250
text
stringlengths
1
64.9k
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Fonem memiliki dua alofon, yaitu alofon yang umumnya muncul dalam suku kata penultima (kedua terakhir) dan antepenultima (ketiga dari akhir), baik yang terbuka maupun yang tertutup, serta alofon yang dapat muncul dalam suku kata terbuka. Dalam suku kata terbuka, hanya dapat direalisasikan sebagai jika suku kata tersebut berada di akhir kata, atau jika suku kata tersebut merupakan suku kata penultima dari kata yang berakhir dengan .
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
{|
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||bali||||'pulang'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||kaloka||||'termasyhur'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||kaya||||'seperti'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|}
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Fonem selalu diucapkan sebagai .
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
{|
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||metu||||'keluar'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||pelem||||'mangga'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|}
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Konsonan
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Bahasa Jawa memiliki 21 fonem konsonan jika hanya menghitung kosakata "asli". Sekitar 2–4 fonem konsonan tambahan dapat ditemui dalam kata-kata pinjaman. Dalam tabel di bawah ini, fonem dalam tanda kurung menandakan fonem pinjaman.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Kecuali dalam kluster sengau homorganik, fonem , , , , dan dalam posisi awal suku kata cenderung diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar daripada biasanya dan hampir tanpa menggetarkan pita suara, sehingga mendekati bunyi , , , , dan . Ahli ilmu fonetik Peter Ladefoged dan Ian Maddieson mengistilahkan seri fonem ini sebagai konsonan hambat "bersuara kendur" (slack voiced), kontras dengan seri fonem , , , , dan yang "bersuara kencang" (stiff voiced). Walaupun keduanya sama-sama diucapkan tanpa menggetarkan pita suara dalam beberapa kondisi, seri konsonan kendur memiliki bukaan pita suara yang lebih lebar daripada seri konsonan kencang. Selain itu, bunyi vokal yang mengikuti seri konsonan kendur juga diucapkan dengan aliran udara yang lebih besar (breathy voice). Bunyi hambat pada akhir suku kata umumnya diucapkan tanpa letupan ( diucapkan , diucapkan , diucapkan , dan seterusnya).
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Fonotaktik
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Struktur suku kata paling umum dalam bahasa Jawa adalah , V, VK, dan KVK. Suku kata dapat pula diawali dengan gabungan konsonan, yang umumnya terbagi menjadi tiga jenis: 1) gabungan konsonan homorganik yang terdiri dari bunyi sengau ditambah bunyi letup bersuara (KV, NKVK), 2) gabungan konsonan yang terdiri dari bunyi letup ditambah bunyi likuida atau semivokal (KKV, KKVK), dan 3) gabungan konsonan sengau homorganik yang diikuti dengan bunyi likuida dan semivokal (NKKV, NKKVK).
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
{|
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||V||: ka-é 'itu'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||KV||: gu-la 'gula'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||VK||: pa-it 'pahit'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||KVK||: ku-lon 'barat'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||KKV (termasuk NKV)||: bla-bag 'papan', mbo-ten 'tidak'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||KKVK (termasuk NKVK)||: prap-ta 'datang'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||NKKVK||: ngglam-byar 'tidak fokus'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|}
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Deret konsonan antarvokal umumnya terdiri dari konsonan sengau + letup homorganik (seperti [mp], [mb], [ɲtʃ], dan seterusnya), atau [ŋs]. Bunyi /l/, /r/, dan /j/ dapat pula ditambahkan di akhir deret konsonan semacam ini. Contoh deret konsonan semacam ini adalah wonten 'ada', bangsa 'bangsa', dan santri 'santri, Muslim yang taat'. Dalam bahasa Jawa, suku kata sebelum deret konsonan semacam ini secara konvensional dianggap sebagai suku kata terbuka, sebab bunyi /a/ dalam suku kata seperti ini akan mengalami pembulatan menjadi . Kata tampa 'terima', misalnya, diucapkan sebagai [tɔmpɔ]. Bandingkan dengan kata tanpa 'tanpa' yang diucapkan sebagai [tanpɔ].
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Sebagian besar (85%) morfem dalam bahasa Jawa terdiri dari 2 suku kata; morfem sisanya memiliki satu, tiga, atau empat suku kata. Penutur bahasa Jawa memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengubah morfem dengan satu suku kata menjadi morfem dengan dua suku kata. Morfem dengan empat suku kata kadang pula dianalisis sebagai gabungan dua morfem yang masing-masingnya memiliki dua suku kata.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Tata bahasa
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Pronomina persona
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Bahasa Jawa tidak memiliki pronomina persona khusus untuk menyatakan jamak kecuali kata kita yang kemungkinan diserap dari bahasa Indonesia. Penjamakan kata ganti dapat diabaikan atau dinyatakan dengan menggunakan frasa semisal aku kabèh 'kami', awaké dhéwé 'kita', dhèwèké kabèh 'mereka' dan semacamnya.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Pronomina persona dalam bahasa Jawa, terutama untuk persona kedua dan ketiga, lebih sering digantikan dengan nomina atau gelar tertentu. Selain pronomina yang dijabarkan di dalam tabel di atas, bahasa Jawa masih memiliki beragam pronomina lain yang penggunaannya bervariasi tergantung dialek atau tingkat tutur.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Demonstrativa
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Demonstrativa atau kata tunjuk dalam bahasa Jawa adalah sebagai berikut:
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Kata iki dan iku dapat digunakan baik dalam tulisan maupun percakapan. Bentuk kiyi, kiyé, kuwi, dan kuwé utamanya digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bentuk ika hanya dipakai dalam tembang. Bentuk madya dari iki/kiyi/kiyé, iku/kuwi/kuwé dan kaé adalah niki, niku, dan nika. Ketiga jenis demonstrativa ini memiliki bentuk krama yang sama, yaitu punika atau menika, walaupun dalam beberapa kasus, kata mekaten atau ngaten juga digunakan sebagai padanan krama dari kaé.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Nomina
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Dalam bahasa Jawa, atribut pewatas (modifier) nomina inti diletakkan setelah nomina. Nomina inti tidak diberi imbuhan jika diikuti dengan atribut adjektiva atau verba non-pasif (penanda tujuan atau kegunaan) yang membatasi makna nomina tersebut. Kepemilikan dapat dinyatakan secara implisit tanpa imbuhan, atau secara eksplisit dengan akhiran -(n)é atau -(n)ipun pada nomina inti.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
{|
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||wit kinah||'pohon kina'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||sumur jero||'sumur dalam'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||peranti nenun||'peralatan menenun'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||idham-idhaman kita||'cita-cita kita'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||omahé Marsam||'rumahnya Marsam'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|}
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Imbuhan -(n)ing, yang utamanya digunakan dalam ragam tulisan, memiliki beberapa makna berbeda yang menyatakan hubungan antara inti dan atribut.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
{|
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||ratuning buta||'rajanya para raksasa'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||rerengganing griya||'hiasan untuk rumah'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||dèwining kaéndahan||'dewi kecantikan'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|}
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Numeralia
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Numeralia atau angka umumnya diletakkan setelah nomina.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
{|
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||wong siji||'satu orang'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||gelas pitu||'tujuh gelas'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||candhi sèwu||'seribu candi'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|}
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Numeralia diletakkan sebelum nomina jika nomina tersebut merupakan penunjuk satuan ukuran atau satuan bilangan. Numeralia dalam posisi ini akan mendapatkan pengikat nasal -ng jika berakhir dengan bunyi vokal, atau -ang jika berakhir dengan konsonan non-sengau. Satu-satunya pengecualian adalah numeralia siji 'satu' yang diganti dengan imbuhan sa-/se-/s- dalam konteks ini.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
{|
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||telung puluh||'tiga puluh'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||patang pethi||'empat peti'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||sa-genthong||'satu tempayan'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||se-gelas||'segelas'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|-
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
| ||s-atus rupiyah||'seratus rupiah'
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
|}
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Verba
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
GEN:genitif
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
LOC:penanda lokasi
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
TR1:transitif I, aplikatif
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
TR2:transitif II, kausatif
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Paradigma verba bahasa Jawa baku dapat diringkaskan sebagai berikut:
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Tidak semua imbuhan verba dalam paradigma yang dijabarkan di atas lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Selain itu, dialek bahasa Jawa lainnya umumnya memiliki paradigma verba yang lebih sederhana, seperti misalnya dialek Tengger yang tidak menggunakan imbuhan berbeda bagi verba dengan modus subjungtif dan imperatif (walaupun dialek baku juga tidak membedakan keduanya dalam bentuk aktif, sama-sama ditandai dengan imbuhan N- dan -a).
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Verba transitif dalam bahasa Jawa dapat dibentuk dengan merangkaikan awalan sengau N- pada kata dasar untuk bentuk aktif atau awalan pronominal seperti di-, tak-, dan kok- untuk bentuk pasif.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Penambahan akhiran -i dan -aké umumnya menandakan valensi yang lebih tinggi. Akhiran -i biasanya bersifat aplikatif, seperti dalam kata tanduri 'tanami (dengan sesuatu)' dari kata dasar tandur 'tanam'. Akhiran -aké (bentuk krama: -aken) dapat membentuk verba kausatif dari verba transitif, contohnya kata lebokaké 'masukkan (ke dalam sesuatu)' dari kata mlebu. Jika dipasangkan pada verba intransitif, verba yang terbentuk dapat bersifat benefaktif, contohnya seperti kata jupukaké 'ambilkan (untuk seseorang)' dari bentuk dasar jupuk 'ambil'.
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Baik verba transitif maupun intransitif memiliki beberapa bentuk tergantung modus gramatikanya. Selain bentuk dasar atau bentuk indikatif, ada pula bentuk irealis/subjungtif, imperatif, dan propositif. Modus irealis dalam bahasa Jawa diekspresikan dengan imbuhan -a, yang dapat memiliki beberapa makna, yaitu:
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Menyatakan kemungkinan (potential).
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Menyatakan pengandaian (conditional).
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Menyatakan harapan (optative).
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Menyatakan permintaan (hortative).
16
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jawa
Bahasa Jawa
Verba dengan modus imperatif tidak dapat diawali dengan pelengkap yang berupa pelaku, dan ditandai dengan imbuhan -en atau -a. Verba intransitif tidak memiliki bentuk imperatif khusus.